March 18, 2019

Please reload

Recent Posts

STOP THE DRAMA

January 18, 2018

 

Salah satu cara untuk memperbaiki bisnis Anda adalah dengan mendorong budaya komunikasi yang positif dalam menghadapi konflik. Bila perusahaan tahu bagaimana menghadapi konflik yang tidak sehat maka hasilnya adalah hubungan, dukungan moral dan produktivitas akan membaik. Konflik tidak mungkin dihindari karena setiap departemen, sub departemen, unit  mempunyai KPI yang mendukung tujuan besar dari perusahaan. Pada saat konflik tidak terselesaikan maka rasa percaya (TRUST) akan memudar, komunikasi akan terhambat sehingga akibatnya kerjasama untuk mencapai tujuan korporasi akan terbengkalai.

 

Apakah ada solusi untuk hubungan yang tidak sehat ini? Bagaimana cara kita menanganinya? Apa yang harus dilakukan jika ini terjadi di perusahaan Anda?

Stephen Karpman, M.D meluncurkan sebuah model interaksi sosial antara sesama manusia dalam bentuk segitiga yang di kenal dengan “Karpman Drama Triangle”. Model ini memetakan jenis interaksi tidak kondusif bahkan bisa kearah destruktif yang dapat terjadi di antara pihak-pihak yang terlibat konflik. Model ini juga dipakai sebagai alat yang dapat digunakan dalam psikoterapi. Di tempat kerj, fenomena ini telah dipopulerkan sebagai triangle (model segitiga) dengan 3 peran utama seperti terlihat pada gambar di bawah ini:

 

 

Segitiga Karpman telah disesuaikan untuk digunakan dalam analisis struktural (menentukan peran konflik antara penganiaya - persecutor, korban – victim dan penyelamat - rescuer) dan analisis transaksional (diagram bagaimana peserta beralih peran dalam konflik).

 

 

Sikap dari Korban (Victim) adalah "Kasihani saya!" Victim merasa menjadi korban, tertindas, tidak berdaya, putus asa dan tidak dapat membuat keputusan dalam konflik/ketegangan yang terjadi. Korban merasa teraniaya oleh seorang Penganiaya (Persecutor) dan ditolong oleh Penyelamat (Rescuer). Seorang Korban tidak mau mengambil tanggung jawab atas pilihannya.

 

 

 

 

 

Sikap seorang penyelamat (Rescuer) adalah "Biarkan saya membantu Anda." Penyelamat merasa bersalah jika dia tidak melakukan sesuatu untuk menyelamatkannya. Namun, penyelamatannya memiliki efek negatif: ini membuat Korban tetap bergantung dan memberi izin kepada Korban untuk gagal. Ketika Penyelamat memfokuskan energi mereka pada orang lain, memungkinkan mereka untuk mengabaikan kecemasan dan menghindari masalah mereka sendiri yang disamarkan sebagai perhatian terhadap kebutuhan Korban.

 

 

 

Sikap Penganiaya (Persecutor) adalah "Itu semua salahmu." Si penganiaya mengendalikan, menyalahkan, kritis, menindas, marah, berwibawa, kaku, dan superior. Drama yang dilakukan adalah Korban merasa diperlakukan tidak baik/adil oleh Penganiaya dan Penyelamat datang seolah-olah sebagai malaikat yang penuh dengan kebijaksanaan dan pengertian. Drama ini berlarut-larut dan tidak akan ada hasil yang membangun bagi hubungan kerja ke 3 peranan orang ini.

 

 

 

 

Sebagai ilustrasi, mari kita gunakan segitiga diatas. Marie (Korban) memiliki masalah dengan Johan (Penganiaya). Dalam upaya untuk mengatasi masalah ini, Marie menemui Angel (Penyelamat) untuk meminta bantuan. Angel merasa berkewajiban untuk memperbaiki situasi, dan kemudian berbicara dengan Johan tentang masalahnya. Sementara itu, Johan bahkan tidak tahu bahwa Marie memiliki kekhawatiran ini, dan dia menjadi marah padanya. Johan mulai kesal dan mulai bersikap pasif secara agresif terhadap Marie.

Seperti yang bisa Anda bayangkan, situasi ini dimainkan setiap hari di tempat kerja, dan hasilnya tidak pernah positif. Peran dapat dengan cepat berkembang; Penganiaya, misalnya, mungkin jatuh ke dalam peran Korban jika tindakan yang diambil oleh si Penyelamat tidak tepat dan bijaksana. Korban mencoba menemukan penyelamat mereka yang mengakibatkan lebih banyak lagi orang yang terlibat pada situasi yang sederhana bisa di selesaikan secara dewasa sebenarnya. Sementara itu, perang dingin terjadi - situasi konfllik yang tidak pernah teratasi dan terus mendidih akan menciptakan lingkaran setan yang menghasilkan lingkungan kerja tidak sehat bahkan menghasilkan racun yang berbahaya.

 

Apakah ada solusi bagi tantangan ini? Bagaimana caranya memainkan peranan yang benar? Seberapa sehat Anda bisa mengukur perusahaan Anda? Bergantung dari seberapa dewasa peranan tim yang dimainkan dalam menghadapi konflik.

Kita baru bisa melihat seseorang pemimpin lahir dan berkembang di perusahaan Anda karena kedewasaannya dalam menghadapi konflik dengan bijaksana, bukannya menghindar atau lari dari masalah dan meminta pertolongan orang lain bahkan bersembunyi di balik orang lain.

Memperlengkapi tim Anda untuk menghadapi konflik secara membangun tidak bisa dielakan karena kepemimpinan adalah kemampuan memecahkan masalah yang sulit dan membangun tim yang solid untuk keberhasilan perusahaan.

Salam produktif dan terus bangkitkan pemimpin-pemimpin handal di dunia kerja dimanapun Anda berada. 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Please reload

Archive

Visit

Setiabudi 2 Building. 6th Floor. Unit 606. Jl. HR. Rasuna Said. Kav. 62. Jakarta Selatan. Indonesia

 

Call

T: +62-21-521-0793
F: +62-21-521-0794

 

Contact         @ExecuTrain_JKT

sales@executrain.co.id

  • w-tbird

 2013 by ExecuTrain of Jakarta.