Seni Menerima Umpan Balik



Terminologi umpan balik (feed-back) diciptakan pada tahun 1960 sewaktu revolusi industri untuk menjelaskan hasil output dari energi, momentum, dan signal-signal lainnya yang mengacu pada sumber sistem mekanikal dihasilkan. Sesudah perang dunia kedua terminologi ini banyak di pakai untuk managemen manusia dan kinerja. Pada saat ini umpan balik memainkan peranan yang sangat penting dalam mengembangkan talenta, meningkatkan moral, menyelaraskan tim, menyelesaikan masalah, meningkatkan kinerja.


Berita dari HR profesional mengatakan bahwa 63% dari profesional/eksekutif memiliki tantangan terbesar menjadi efektif adalah para manager tidak berani atau memiliki kemampuan untuk memberikan diskusi umpan balik yang efektif. Oleh sebab itu perusahaan melakukan investasi setiap tahunnya untuk memberikan pelatihan kepada leader, supervisor dan manager untuk bisa memberikan umpan balik secara efektif. Pada waktu pemimpin yang memberikan umpan balik menghadapi rintangan atau ditolak, maka pemberi feedback didorong untuk memberikan umpan balik lebih keras. Kelihatannya ini bukan solusi yang strategis.


Sebelum kita mempelajari cara memberikan umpan balik, ada 2 hal penting yang perlu diketahui:

  1. Kembangkan budaya TARIK (PULL) Budaya untuk belajar merupakan sesuatu yang perlu dikaryakan dalam perusahaan. Haus untuk terus belajar tidak stop di bangku kuliah tetapi diteruskan kedalam pekerjaan. Umpan balik bukan sesuatu yang harusnya diterima, tetapi dicari secara aktif. Bukan semakin didorong (PUSH) dari atas melainkan ditarik (PULL) dari bawah. Daya ungkit sesungguhnya terjadi dari kekuatan menghasilkan daya tarik dari bawah (The real leverage is creating the pull).

  2. Penerimaan diri seseorang (ACCEPTANCE) Selain itu mengapa orang takut menerima umpan balik dari atasannya, ini berhubungan dengan penerimaan diri seseorang. Kebutuhan diterima di dalam manusia sangat dalam, semua orang butuh diterima - siapapun mereka tidak terkecuali.

Jadi keahlian menerima umpan balik adalah sebuah seni dari menciptakan kombinasi budaya tarik (PULL) dan mengembangkan penerimaan diri (acceptance) penerimanya. Anda sebagai pemberi umpan balik perlu memiliki kemampuan menciptakan kedua hal ini di dalam diri penerima.


Evidence apa yang terlihat untuk mengukur keberhasilan pemberi umpan balik? Ekspresi wajah penerima akan terlihat tidak ketakutan, tegang, bingung tetapi antusias, bersemangat karena mereka akan mempelajari hal baru yang akan membuat mereka lebih produktif.

Akibat dari proses ini, perusahaan Anda akan mengembangkan daya serap yang efektif dari bawah keatas (bottom up approach learning). Proses secara berkelanjutan akan memberikan percepatan dalam pengembangan calon maupun pemimpin di bawah Anda.


Kemampuan ini bukan sesuatu yang sudah ada begitu saja, tetapi keahlian yang perlu diasah. Belajar dan kembangkan seni ini dengan sengaja sehingga produktivitas perusahaan akan semakin meningkat dengan mengalami hasil produktif yang baru, karena karyawan tahu mereka semua bekerja di perusahaan yang mengembangkan diri mereka.

Salam Produktif

(BD)


Recent Posts
Archive